Bulan suci Ramadan selalu menghadirkan suasana yang berbeda dibanding bulan-bulan lainnya. Umat Islam menyambutnya dengan penuh suka cita karena di dalamnya terdapat berbagai keutamaan, ampunan, serta pahala yang berlipat ganda. Salah satu ibadah utama yang menjadi ciri khas Ramadan adalah puasa, yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, serta meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Kewajiban ini berlaku bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat syariat, sebagaimana ditegaskan dalam berbagai dalil Al-Qur’an dan hadits Rasulullah SAW.
Namun, di tengah kewajiban tersebut, muncul pertanyaan penting bagaimana dengan anak-anak yang belum baligh? Apakah mereka perlu berpuasa, dan bagaimana cara melatihnya agar tumbuh rasa cinta terhadap ibadah sejak dini?
Baca Juga: 10 Tips Mengajarkan Puasa Pada Anak Sejak Dini Tanpa Drama
Kewajiban Berpuasa dalam Islam dan Cara Melatih Anak Sejak Dini
Bulan suci Ramadan merupakan momen istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Di bulan penuh berkah ini, setiap Muslim berlomba-lomba meningkatkan kualitas ibadah, termasuk menjalankan puasa yang menjadi salah satu rukun Islam. Namun, sering muncul pertanyaan: sejak kapan sebenarnya puasa diwajibkan, dan bagaimana cara mengenalkannya kepada anak-anak?
Kewajiban Puasa Ramadan
Secara syariat, puasa Ramadan diwajibkan bagi setiap Muslim yang telah memenuhi syarat, yaitu sudah baligh, berakal sehat, serta tidak memiliki udzur syar’i seperti sakit, safar, haid, atau kondisi lain yang dibenarkan agama. Kewajiban ini ditegaskan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya:
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
Artinya:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.” (HR. Ahmad)
Hadits ini menegaskan bahwa puasa Ramadan bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan kewajiban yang memiliki dimensi spiritual luar biasa.
Meskipun puasa belum diwajibkan bagi anak yang belum baligh, Islam sangat menganjurkan pendidikan ibadah sejak dini. Dalam kitab Fiqh al-Shiyam, ulama kontemporer Yusuf al-Qaradawi menjelaskan bahwa anak-anak tidak seharusnya dibiarkan tanpa latihan ibadah. Pembiasaan sejak kecil akan memudahkan mereka saat kewajiban itu benar-benar berlaku.
Prinsip ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud nomor 418:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Artinya:
“Perintahkan anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (jika meninggalkannya) ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.”
Hadits ini menunjukkan pentingnya pembiasaan ibadah sejak usia sekitar tujuh tahun. Al-Qaradawi bahkan menegaskan bahwa “mendidik di waktu kecil ibarat mengukir di atas batu” — bekasnya akan kuat dan bertahan lama.
Baca Juga: Ide Menu Buka Puasa 30 Hari Tanpa Bingung dan Ribet!
Mengenal Tradisi “Puasa Bedug”
Di Indonesia, dikenal istilah “Puasa Bedug”. Istilah ini bukan konsep fikih formal, melainkan strategi parenting dalam melatih anak berpuasa secara bertahap.
Menurut jurnal berjudul Pengembangan Kecerdasan Spiritual Anak Melalui Amalan Ibadah Puasa Ramadhan Sejak Masa Dini karya Carina Septiani, Puasa Bedug dilakukan dengan cara anak berpuasa sejak imsak hingga azan Zuhur. Setelah itu, anak diperbolehkan berbuka, lalu melanjutkan kembali puasanya hingga waktu Maghrib.
Metode ini bertujuan agar anak tidak merasa kaget atau terbebani dengan rasa lapar dan haus. Beberapa orang tua juga memberikan reward sederhana sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.
Perlu dipahami, bagi orang dewasa yang telah wajib berpuasa, membatalkan puasa tanpa alasan syar’i hukumnya haram. Namun, bagi anak yang belum mukalaf (belum terbebani hukum syariat), metode ini diperbolehkan sebagai bagian dari proses pendidikan dan latihan.
Baca Juga: Cari Tahu! Tips Seru Agar Anak Semangat Puasa Ramadhan
Tahapan Melatih Anak Berpuasa
Agar proses latihan berjalan efektif dan menyenangkan, berikut beberapa tahapan yang dapat diterapkan orang tua:
1. Beri Pemahaman Sederhana
Jelaskan makna puasa dengan bahasa yang mudah dipahami. Misalnya, puasa melatih kesabaran, rasa syukur, dan empati kepada orang yang kurang mampu.
2. Jadilah Teladan
Anak adalah peniru yang ulung. Sikap orang tua sangat menentukan keberhasilan pembiasaan ibadah.
3. Ajak Sahur Bersama
Libatkan anak dalam suasana sahur agar mereka merasakan kebersamaan dan semangat Ramadan.
4. Latihan Bertahap
Mulai dari waktu yang singkat, misalnya hingga pukul 10 pagi. Tingkatkan ke Zuhur, lalu Asar, hingga akhirnya mampu berpuasa penuh sampai Maghrib.
Teladan dari Zaman Nabi
Latihan puasa untuk anak ternyata sudah dipraktikkan sejak masa Rasulullah SAW. Dalam hadits riwayat Muhammad al-Bukhari, Rubayyi’ binti Mu’awwidz menceritakan suasana puasa Asyura di Madinah.
Para sahabat membiasakan anak-anak mereka berpuasa. Jika anak merasa lapar dan menangis, mereka mengalihkan perhatian dengan mainan dari kain wol hingga waktu berbuka tiba.
Puasa Ramadan memang hanya diwajibkan bagi Muslim yang telah baligh dan memenuhi syarat. Namun, pendidikan ibadah sebaiknya dimulai sejak dini melalui pendekatan bertahap dan penuh kebijaksanaan. Tradisi seperti Puasa Bedug menjadi bukti bahwa masyarakat Indonesia memiliki kearifan lokal dalam mendidik anak mengenal ibadah.
Dengan pembiasaan yang tepat, puasa tidak hanya menjadi kewajiban, tetapi juga kebutuhan spiritual yang tumbuh dari kesadaran dan kecintaan kepada Allah SWT.








