Bulan Ramadhan selalu menghadirkan suasana berbeda di lingkungan sekolah. Aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung, namun ritmenya menyesuaikan dengan kondisi siswa yang menjalankan ibadah puasa. Momen ini bukan hanya tentang pengurangan jam pelajaran, tetapi juga tentang menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna dan berkarakter.
Pemerintah melalui Rapat Tingkat Menteri yang dipimpin Menko PMK Pratikno menegaskan bahwa pembelajaran selama Ramadhan perlu diarahkan pada penguatan iman, takwa, akhlak, dan karakter sosial peserta didik. Artinya, sekolah tidak hanya mengejar target akademik, tetapi juga membentuk sikap empati, kepedulian, serta kebiasaan positif selama bulan suci.
Sejumlah penyesuaian pun dianjurkan, mulai dari pengurangan aktivitas fisik berat, optimalisasi asesmen formatif, hingga penyelenggaraan kegiatan keagamaan sesuai keyakinan masing-masing siswa. Sekolah didorong menciptakan suasana Ramadhan yang ramah anak, edukatif, serta tetap menjaga kualitas pembelajaran agar siswa tetap produktif tanpa merasa terbebani.
Baca Juga: 10 Materi Kultum Ramadhan Singkat & Berkesan 3-7 Menit
Jam Sekolah dan Kegiatan Selama Ramadan 2026
Pemerintah menegaskan bahwa pembelajaran selama bulan suci Ramadan tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga menjadi momentum pembentukan karakter. Dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menekankan pentingnya penguatan iman, takwa, akhlak, serta kepedulian sosial siswa selama Ramadan.
Kebijakan tersebut sejalan dengan arahan dalam Surat Edaran Bersama (SEB) dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Menteri Agama, dan Menteri Dalam Negeri mengenai pembelajaran pada Ramadan 1447 H/2026 M. Intinya, kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, namun dengan penyesuaian ritme dan aktivitas agar lebih ramah bagi siswa yang menjalankan ibadah puasa.
Baca Juga: Apa Itu Masjid Ramah Anak? Berikut Penjelasan dan Manfaatnya
Rekomendasi Kegiatan Selama Ramadan
Mengacu pada informasi dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, sekolah didorong menyelenggarakan kegiatan yang tidak hanya edukatif tetapi juga memperkuat nilai spiritual dan sosial.
Bagi siswa Muslim, kegiatan yang dianjurkan antara lain:
- Tadarus Al-Qur’an bersama
- Pesantren kilat
- Kajian keislaman
- Praktik ibadah dan pembiasaan akhlak mulia
Bagi siswa non-Muslim, sekolah diminta:
- Memfasilitasi bimbingan rohani sesuai agama masing-masing
- Menyelenggarakan kegiatan keagamaan yang relevan dengan keyakinan peserta didik
Selain penguatan spiritual, Ramadan juga diarahkan sebagai ajang pembelajaran sosial melalui kegiatan seperti:
- Berbagi takjil kepada masyarakat
- Lomba keagamaan (azan, musabaqah tilawatil Qur’an, cerdas cermat)
- Pengumpulan dan penyaluran zakat serta santunan
Tidak hanya itu, pemerintah juga mendorong gerakan pembentukan karakter, misalnya:
- Gerakan satu jam tanpa gawai
- Pembiasaan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat
- Kegiatan gotong royong dan aksi sosial di lingkungan sekolah
- Menurut Pratikno, Ramadan harus menjadi ruang belajar empati, solidaritas, dan kepedulian sosial, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Baca Juga: 100+ Ucapan Selamat Sahur Singkat, Lucu & Berkesan
Penyesuaian Jam Sekolah Saat Puasa
Selama Ramadan, pemerintah daerah diminta menyesuaikan waktu dan pola pembelajaran di sekolah agar lebih kondusif. Kepala sekolah diberikan kewenangan untuk melakukan penyesuaian teknis tanpa mengurangi substansi kurikulum nasional.
Beberapa bentuk penyesuaian yang dianjurkan antara lain:
1. Pengurangan Aktivitas Fisik
Intensitas mata pelajaran yang membutuhkan energi fisik tinggi seperti:
- Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK)
- Kepanduan
- Kegiatan luar ruangan
dapat dikurangi atau disesuaikan agar siswa tidak kelelahan saat berpuasa.
2. Penyesuaian Durasi Jam Pelajaran
Sebagai contoh, pada tahun sebelumnya:
- DKI Jakarta mengurangi durasi setiap mata pelajaran sekitar 10 menit, namun jam masuk tetap pukul 06.30 WIB.
- Kota Palembang juga memangkas waktu belajar dan memundurkan jam masuk sekolah menjadi 07.30 WIB untuk memberikan kenyamanan bagi siswa dan guru yang berpuasa.
Kebijakan teknis serupa berpotensi diterapkan kembali pada Ramadan 2026, menyesuaikan kondisi masing-masing daerah.
3. Penguatan Asesmen Formatif
Guru didorong untuk lebih banyak menggunakan asesmen formatif guna memantau perkembangan belajar siswa selama Ramadan. Pendekatan ini membantu memastikan bahwa meskipun durasi belajar berkurang, kualitas pembelajaran tetap terjaga.
4. Dukungan untuk Siswa Berkebutuhan Khusus
Sekolah juga diimbau memberi perhatian khusus kepada anak berkebutuhan khusus maupun siswa yang berpotensi tertinggal agar tetap mendapatkan hak belajar secara optimal.
Menanti Aturan Teknis Daerah
Setiap pemerintah daerah akan mengeluarkan kebijakan turunan terkait jam masuk dan pola kegiatan sekolah selama Ramadan. Oleh karena itu, siswa dan orang tua disarankan untuk memantau informasi resmi dari dinas pendidikan kabupaten/kota masing-masing.
Ramadan 2026 diharapkan tidak hanya menjadi waktu ibadah, tetapi juga momen pendidikan karakter yang bermakna. Dengan pengaturan jam sekolah yang adaptif serta kegiatan yang membangun spiritual dan sosial, suasana belajar tetap kondusif sekaligus penuh nilai kebaikan.
Sekolah selama Ramadhan bukan sekadar menyesuaikan jam belajar, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan nilai spiritual. Dengan aturan yang adaptif serta kegiatan yang tepat, bulan suci dapat menjadi momentum pendidikan yang lebih bermakna bagi seluruh peserta didik.







