Filosofi Warna Hijau dan Bulan Sabit sebagai Ikon Ramadhan

Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, suasana di berbagai daerah baik perkotaan maupun pedesaan—biasanya mulai berubah. Masjid dihias lebih semarak, spanduk dan lampu dekoratif dipasang di jalanan, hingga pusat perbelanjaan menghadirkan nuansa Islami yang khas. religius terasa semakin kuat sebagai penanda bahwa bulan penuh berkah segera tiba.

Dari berbagai warna yang menghiasi dekorasi Ramadhan, hijau menjadi warna yang paling dominan dan mudah dikenali. Warna ini seakan menjadi simbol tak tertulis yang langsung diasosiasikan dengan Ramadhan. Bahkan, tidak hanya pada bulan puasa, hijau juga kerap hadir dalam berbagai peringatan hari besar Islam lainnya sehingga semakin melekat sebagai identitas visual dalam tradisi Islam.

Baca Juga: Ramadhan Identik dengan Lentera: Makna dan Filosofinya

Makna Warna Hijau dalam Tradisi Islam

Dalam perspektif Islam, warna hijau sering dimaknai sebagai simbol kehidupan, kesejukan, keberkahan, serta ketenangan jiwa. Al-Qur’an menggambarkan penghuni surga mengenakan pakaian berwarna hijau dari sutra yang halus, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Insan ayat 21. Gambaran tersebut memperkuat asosiasi hijau dengan keindahan, kedamaian, dan kenikmatan abadi.

Karena itu, penggunaan warna hijau dalam dekorasi Ramadhan bukan sekadar estetika, melainkan juga sarat makna. Hijau mencerminkan harapan akan pertumbuhan iman, pembaruan diri, serta semangat memperbaiki kualitas ibadah selama menjalankan puasa.

Secara psikologis, hijau juga dikenal sebagai warna yang menenangkan dan menyejukkan pandangan. Nuansa ini selaras dengan esensi Ramadhan yang mengajarkan kesabaran, pengendalian diri, serta refleksi spiritual yang mendalam.

Kedekatan warna hijau dengan Islam juga diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat yang disebutkan dalam kitab Majma’ az-Zawāid karya Al-Haitami, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW menyukai warna hijau:

أنَّ النبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ كان يحبُّ الخضرةَ أو قال كان أحبُّ الألوانِ إلى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم

Artinya: “Sesungguhnya Rasulullah SAW menyukai warna hijau.” (HR. Al-Haitami)

Riwayat ini semakin menegaskan mengapa hijau memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam dan kemudian identik dengan suasana Ramadhan.

Baca Juga: Ramadhan Identik dengan Kurma? Ini Penjelasan dan Manfaatnya

Ornamen Ramadhan dan Maknanya

Selain warna hijau, terdapat beberapa simbol lain yang hampir selalu hadir saat Ramadhan, salah satunya adalah bulan sabit atau hilal. Dalam kalender hijriah, kemunculan hilal menjadi penanda dimulainya bulan baru, termasuk awal Ramadhan. Oleh sebab itu, simbol bulan sabit kerap digunakan dalam berbagai dekorasi sebagai representasi dimulainya ibadah puasa.

Penggunaan bulan sabit sebagai simbol Islam juga memiliki latar sejarah panjang. Pada masa Kekaisaran Utsmaniyyah, lambang bulan sabit dan bintang digunakan secara luas, terutama setelah penaklukan Konstantinopel pada abad ke-15. Seiring waktu, simbol tersebut semakin dikenal dan diasosiasikan dengan identitas umat Muslim di berbagai belahan dunia.

Bintang yang sering dipadukan dengan bulan sabit melambangkan cahaya dan petunjuk. Dalam makna spiritual, bintang merepresentasikan hidayah dan harapan. Hal ini sejalan dengan hakikat Ramadhan sebagai bulan ampunan, pencerahan, serta momentum untuk kembali ke jalan yang benar.

Secara keseluruhan, warna hijau dan berbagai ornamen Ramadhan bukan sekadar elemen dekoratif. Di baliknya tersimpan nilai simbolis yang mendalam—tentang kehidupan, harapan, hidayah, dan pembaruan spiritual. Semua itu menjadi pengingat bahwa Ramadhan bukan hanya peristiwa tahunan, melainkan momentum istimewa untuk memperindah iman dan memperkuat kedekatan kepada Allah SWT.

Baca Juga: Libur Lebaran 2026 & Cuti Bersama Cek Rincian Jadwal Resmi

Filosofi Warna dan Simbol sebagai Media Dakwah Visual

Selain memiliki makna spiritual, warna hijau dan berbagai ornamen Ramadhan juga berfungsi sebagai media dakwah visual. Simbol-simbol seperti hilal, bintang, lentera, serta kaligrafi Islami secara tidak langsung mengingatkan masyarakat tentang datangnya bulan suci dan kewajiban beribadah.

Dalam komunikasi visual, simbol memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan tanpa perlu banyak kata. Warna hijau yang dominan, misalnya, secara spontan memunculkan nilai religius dan suasana sakral. Begitu pula gambar bulan sabit yang langsung mengingatkan pada penanggalan hijriah dan awal Ramadhan.

Dekorasi Ramadhan di masjid, sekolah, pusat perbelanjaan, hingga ruang publik bukan sekadar hiasan musiman. Ia menjadi bagian dari syiar Islam yang menghadirkan nuansa religius di tengah kehidupan sehari-hari. Kehadiran simbol-simbol tersebut membantu membangun  nuansa spiritual , sehingga masyarakat lebih siap secara mental dan emosional dalam menyambut serta menjalani ibadah puasa.

Bimbel Presmada

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top