Kemampuan membaca dan memahami informasi merupakan keterampilan dasar yang sangat penting bagi siswa di era modern. Namun, rendahnya minat baca masih menjadi tantangan besar di dunia pendidikan Indonesia. Kondisi ini mendorong perlunya sebuah gerakan yang mampu membangun kebiasaan literasi sejak dini di lingkungan sekolah.
Sebagai upaya menjawab tantangan tersebut, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan menggagas Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Program ini bertujuan menciptakan budaya membaca dan menulis yang berkelanjutan, tidak hanya sebagai aktivitas akademik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari siswa di sekolah.
Gerakan Literasi Sekolah tidak sekadar mengajak siswa membaca buku, melainkan membangun lingkungan belajar yang kaya akan aktivitas literasi. Dengan penerapan yang tepat dan melibatkan seluruh warga sekolah, GLS diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran serta membentuk karakter siswa yang kritis, kreatif, dan gemar belajar.
Baca Juga: 11 Cara Mengajarkan Anak Membaca yang Mudah dan Efektif
Apa itu Gerakan Literasi Sekolah (GLS)?
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah sebuah program nasional yang bertujuan menumbuhkan budaya literasi di lingkungan sekolah melalui kebiasaan membaca, menulis, dan berpikir kritis. Literasi dalam konteks GLS tidak hanya terbatas pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup keterampilan memahami informasi, mengolah pengetahuan, serta mengekspresikan ide secara lisan maupun tulisan.
GLS dilaksanakan secara menyeluruh dan berkelanjutan dengan membangun kebiasaan positif sejak dini, seperti kegiatan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai, pemanfaatan perpustakaan, dan penggunaan bahan bacaan yang sesuai dengan usia siswa. Program ini melibatkan seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga siswa, agar tercipta lingkungan belajar yang mendukung perkembangan literasi secara optimal.
Baca Juga: Cara Belajar Membaca untuk Anak TK yang Gampang & Seru
6 Penerapan Gerakan Literasi Sekolah di Lingkungan Pendidikan
Penerapan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di lingkungan pendidikan dilakukan secara bertahap dan terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari. Tujuannya bukan hanya meningkatkan kemampuan membaca siswa, tetapi juga membentuk kebiasaan belajar yang kritis, kreatif, dan berkelanjutan. Berikut beberapa bentuk penerapan GLS yang umum dilakukan di sekolah:
1. Kegiatan Membaca 15 Menit Sebelum Pembelajaran
Sekolah membiasakan siswa untuk membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan membaca buku nonpelajaran seperti cerita anak, buku pengetahuan populer, atau bacaan inspiratif. Tujuannya adalah menumbuhkan minat baca tanpa tekanan akademis, sehingga siswa merasa membaca sebagai kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat.
2. Pemanfaatan Perpustakaan dan Sudut Baca Sekolah
Perpustakaan sekolah berperan sebagai pusat kegiatan literasi. Selain itu, sekolah juga menyediakan sudut baca di kelas, lorong sekolah, atau ruang tunggu agar siswa mudah mengakses bahan bacaan. Lingkungan yang kaya akan teks ini membantu siswa terbiasa berinteraksi dengan buku dan sumber informasi lainnya dalam keseharian.
3. Integrasi Literasi dalam Proses Pembelajaran
Guru mengaitkan kegiatan literasi dengan mata pelajaran, seperti meminta siswa membaca teks, menganalisis informasi, menulis ringkasan, atau menyampaikan pendapat secara lisan. Dengan cara ini, literasi tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian penting dari proses pembelajaran yang mendorong pemahaman dan berpikir kritis.
4. Kegiatan Menulis dan Ekspresi Kreatif Siswa
Sekolah mendorong siswa untuk menulis melalui berbagai kegiatan, seperti membuat jurnal harian, cerpen, puisi, atau laporan sederhana. Hasil karya siswa dapat dipajang di majalah dinding atau diterbitkan dalam buletin sekolah. Kegiatan ini membantu siswa mengekspresikan ide, melatih keterampilan bahasa, dan meningkatkan rasa percaya diri.
5. Pelibatan Seluruh Warga Sekolah
Penerapan GLS tidak hanya menjadi tanggung jawab guru bahasa, tetapi melibatkan seluruh warga sekolah. Kepala sekolah berperan dalam kebijakan, guru sebagai fasilitator, dan tenaga kependidikan sebagai pendukung lingkungan literasi. Keteladanan dari orang dewasa di sekolah, seperti kebiasaan membaca, juga memberi pengaruh positif bagi siswa.
6. Kerja Sama dengan Orang Tua dan Masyarakat
Sekolah menjalin kerja sama dengan orang tua dan masyarakat untuk mendukung kegiatan literasi, misalnya melalui sumbangan buku, kegiatan membaca bersama, atau kunjungan ke perpustakaan umum. Dukungan dari lingkungan luar sekolah memperkuat keberhasilan GLS dan membantu membangun budaya literasi yang berkelanjutan.
Baca Juga: 40+ Teks Membaca Kelas 1 SD Biar Cepat Lancar
10 Manfaat Gerakan Literasi Sekolah bagi Siswa dan Sekolah
Manfaat Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bagi siswa dan sekolah sangat besar dalam membentuk kualitas pendidikan yang lebih baik. Program ini tidak hanya berdampak pada kemampuan akademik, tetapi juga pada karakter dan budaya belajar di lingkungan sekolah. Berikut manfaat GLS yang dapat dirasakan secara menyeluruh:
1. Meningkatkan Minat dan Kebiasaan Membaca Siswa
Melalui kegiatan literasi yang dilakukan secara rutin, siswa terbiasa berinteraksi dengan buku dan bahan bacaan lainnya. Kebiasaan ini secara perlahan menumbuhkan minat baca yang kuat, sehingga membaca tidak lagi dianggap sebagai kewajiban, melainkan kebutuhan dalam proses belajar dan kehidupan sehari-hari.
2. Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Analitis
GLS mendorong siswa untuk memahami, menafsirkan, dan mengevaluasi informasi yang dibaca. Dengan sering membaca dan berdiskusi, siswa belajar menghubungkan informasi, menarik kesimpulan, serta mengemukakan pendapat secara logis. Hal ini sangat penting dalam menghadapi tantangan pembelajaran dan perkembangan informasi di era digital.
3. Meningkatkan Prestasi dan Pemahaman Akademik
Kemampuan literasi yang baik membantu siswa lebih mudah memahami materi pelajaran di semua mata pelajaran. Siswa menjadi lebih cepat menangkap informasi, mampu mengerjakan tugas dengan baik, dan memiliki hasil belajar yang lebih optimal. Dampaknya, prestasi akademik siswa pun cenderung meningkat.
4. Menumbuhkan Kreativitas dan Kemampuan Berkomunikasi
Kegiatan membaca dan menulis dalam GLS memberi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan ide dan imajinasinya. Melalui menulis cerita, puisi, atau presentasi, siswa terlatih menyampaikan gagasan secara jelas dan sistematis, baik secara lisan maupun tulisan.
5. Membentuk Karakter Positif dan Kemandirian Belajar
GLS membantu menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan rasa ingin tahu pada diri siswa. Kebiasaan membaca dan mencari informasi secara mandiri membuat siswa tidak selalu bergantung pada guru, sehingga terbentuk sikap mandiri dan percaya diri dalam belajar.
6. Menciptakan Budaya Literasi dan Iklim Sekolah yang Positif
Bagi sekolah, GLS mampu membangun lingkungan belajar yang kondusif dan berorientasi pada pengembangan pengetahuan. Sekolah menjadi tempat yang kaya akan aktivitas literasi, kolaboratif, dan inspiratif, sehingga citra sekolah meningkat sebagai lembaga pendidikan yang peduli terhadap kualitas dan karakter peserta didik.
7. Meningkatkan Kemampuan Literasi Digital Siswa
Gerakan Literasi Sekolah juga membantu siswa memahami dan menggunakan informasi digital secara bijak. Melalui pemanfaatan sumber belajar digital, siswa dilatih memilah informasi yang valid, memahami isi bacaan daring, serta menggunakan teknologi sebagai sarana belajar yang positif. Hal ini penting untuk membekali siswa menghadapi arus informasi di era digital.
8. Mendorong Partisipasi Aktif Siswa dalam Pembelajaran
Dengan kemampuan literasi yang baik, siswa menjadi lebih percaya diri untuk bertanya, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat. Kegiatan literasi yang variatif membuat siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pelaku aktif dalam proses pembelajaran, sehingga suasana kelas menjadi lebih hidup dan interaktif.
9. Memperkuat Peran Sekolah sebagai Pusat Pembelajaran
GLS menjadikan sekolah tidak hanya sebagai tempat menerima pelajaran, tetapi juga sebagai pusat pengembangan pengetahuan dan wawasan. Berbagai kegiatan literasi seperti pameran buku, lomba menulis, atau diskusi bacaan memperkaya pengalaman belajar dan memperkuat fungsi sekolah sebagai lingkungan belajar sepanjang hayat.
10. Mendukung Terbentuknya Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat
Kebiasaan literasi yang ditanamkan sejak dini melalui GLS membentuk sikap cinta belajar pada diri siswa. Siswa terbiasa mencari informasi, membaca, dan memperluas wawasan secara mandiri. Sikap ini menjadi bekal penting agar siswa terus belajar dan berkembang, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah.
Gerakan Literasi Sekolah merupakan langkah strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan melalui penguatan budaya literasi sejak dini. Dengan penerapan yang konsisten dan dukungan dari sekolah, orang tua, serta masyarakat, GLS mampu memberikan manfaat jangka panjang bagi perkembangan siswa dan menciptakan lingkungan sekolah yang positif, aktif, dan berorientasi pada pembelajaran sepanjang hayat.








